Memilih Masalah dan Menyusun Hipotesa (Bag 2)

3. Masalah Dirumuskan Secara Jelas, Tidak Bermakna Ganda dan Dalam Bentuk Kalimat Tanya

Masalah harus dirumuskan secara jelas dan tidak bermakna ganda atau memungkinkan adanya tafsiran lebih dari satu dan dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya. Contoh:

  1. Apakah ada hubungan antara promosi dengan volume penjualan?

  2. Apakah warna sepeda motor Suzuki mempengaruhi minat beli konsumen?

  3. Apakah desain produk hand phone mempengaruhi keputusan membeli konsumen?

  4. Apakah ada hubungan antara minat baca dengan tingginya indeks prestasi?

Contoh-contoh di atas mencerminkan rumusan masalah yang jelas dan tidak bermakna ganda. Pada contoh “a” peneliti ingin mengkaji hubungan variable promosi dengan variable volume penjualan. Pada contoh “b” peneliti ingin melakukan studi tentang hubungan variable “warna sepeda motor Suzuki” dengan variable “minat beli”. Pada contoh “c” peneliti akan mengkaji hubungan antar variable “desain produk handphone” dengan variable “keputusan membeli”. Pada contoh “d” peneliti akan mengkaji hubungan antar variable “minat baca” dengan “indeks prestasi”.

4. Dapat Diuji Secara Empiris

Masalah harus dapat diuji secara empiris, maksudnya perumusan masalah yang dibuat memungkinkan peneliti mencari data di lapangan sebagai sarana pembuktiannya. Tujuan utama pengumpulan data ialah untuk membuktikan bahwa masalah yang sedang dikaji dapat dijawab jika peneliti melakukan pencarian dan pengumpulan data. Dengan kata lain masalah memerlukan jawaban, jawaban didapatkan setelah peneliti mengumpulkan data di lapangan dan jawaban masalah merupakan hasil penelitian.

5. Hindarilah Penilaian Moral dan Etis

Sebaiknya peneliti menghindari masalah-masalah yang berkaitan dengan idealisme atau nilai-nilai, karena masalah tersebut lebih sulit diukur dibandingkan dengan masalah yang berhubungan dengan sikap atau kinerja. Misalnya kita akan mengalami kesulitan dalam mengukur masalah-masalah seperti berikut ini:

  1. Haruskah semua mahasiswa tidak mencontek dalam ujian?

  2. Haruskah semau mahasiswa rajin dalam belajar?

Akan lebih baik kalau masalah tersebut dijadikan dalam bentuk seperti:

  1. Hubungan antara kesiapan ujian dan nilai yang diraih

  2. Pengaruh kerajinan mahasiswa terhadap kecepatan kelulusan

Posted under Penulisan KTI by Brian on Monday 18 May 2009 at 9:12 pm

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment