Reog Dalam Antropologi Budaya Masyarakat Ponorogo

ASAL DAN ARTI KATA REOG

Nama asli dari kesenian ini adalah REYOG. Huruf-huruf reyog mewakili sebuah huruf depan kata-kata dalam tembang macapat Pocung yang berbunyi: (R) rasa kidung (E) engkang sukmo adi luhung (Y) Yang Widhi, Yang Agung, (O) olah kridaning Gusti (G) gelar gulung kersaneng Kang Moho Agung. Namun karena perkembangan jaman, oleh bupati Ponorogo, penulisannya sedikit dirubah disesuaikan dengan motto dari kota ponorogo yaitu (R) resik (E) endah (O) ombar (G) girang – gumirang. Sebenarnya hal ini patut disayangkan, karena sejarah yang nan adiluhung ini harus dihilangkan artinya oleh “penguasa” demi keuntungan sepihak.

SEJARAH REOG

Dalam sejarah munculnya reog ini muncul beberapa versi yaitu :

  1. Dilatarbelakangi kisah tentang perjalanan Prabu Kelana Sewandana, Raja Kerajaan Bantarangin yang sedang mencari calon Permaisurinya. Bersama prajurit berkuda, dan patihnya yang setia, Bujangganong. Akhirnya gadis pujaan hatinya telah ditemukan, Dewi Sanggalangit, putri Kediri. Namun sang putri menetapkan syarat agar sang prabu menciptakan sebuah kesenian baru terlebih dahulu sebelum dia menerima cinta sang Raja. Maka dari situlah terciptalah kesenian Reog.

  2. Prabu Kelono Sewandono atau Bethoro Katong (raja Ponorogo) mempunyai seorang putri yang cantik jelita. Karena kecantikannya tersebut membuat para raja dari negara tetangga ingin melamarnya. Salah satunya adalah Prabu Singobarong. Sang Prabu tidak kuasa untuk menolak lamaran prabu Singobarong karena kabaranya prabu Singobarong itu sekti mandraguna. Kemudian dicarilah cara untuk menolak lamaran tersebut dengan mengadakan sayembara. “Barangsiapa yang bisa mengalahkan patih Ponorogo bernama patih Bujang Ganong, yang juga sekti mandraguna, maka dia berhak mengawini putrinya.” Akhirnya terjadilah peperangan antara prabu Singobarong melawan patih Bujang Ganong yang dimenangkan patih Bujang Ganong, malah kemudian prabu Singobarong “nyuwito” di kerajaan Ponorogo. Pertempuran antara prabu Singobarong melawan patih Bujang Ganong itulah cikal bakal kesenian REOG PONOROGO” hingga sekarang.

  3. Kisah Demang Ki Ageng Kutu Suryonggalan yang ingin menyindir Raja Majapahit, Prabu Brawijaya V. Sang Prabu pada waktu itu sering tidak memenuhi kewajibannya karena terlalu dipengaruhi dan dikendalikan oleh sang permaisuri. Oleh karena itu dibuatlah barongan yang terbuat dari kulit macan gembong (harimau Jawa) yang ditunggangi burung merak. Sang prabu dilambangkan sebagai harimau sedangkan merak yang menungganginya melambangkan sang permaisuri.

  4. Tentang cinta seorang raja, Sewondono dari Kerajaan Jenggala, yang hampir ditolak oleh Dewi Sanggalangit dari Kerajaan Kediri. Sang putri meminta Sewondono untuk memboyong seluruh isi hutan ke istana sebagai mas kawin. Demi memenuhi permintaan sang putri, Sewandono harus mengalahkan penunggu hutan, Singa Barong (dadak merak). Namun hal tersebut tentu saja tidak mudah. Para warok, prajurit, dan patih dari Jenggala pun menjadi korban. Bersenjatakan cemeti pusaka Samandiman, Sewondono turun sendiri ke gelanggang dan mengalahkan Singobarong. Pertunjukan reog digambarkan dengan tarian para prajurit yang tak cuma didominasi para pria tetapi juga wanita, gerak bringasan para warok, serta gagah dan gebyar kostum Sewandana, sang raja pencari cinta.

  5. Ada juga legenda yang menggabungkan antara 2 legenda diatas. Dimulai dari pemberontakan Ki Kutu Suryongalam yang merupakan Demang Ponorogo yang dianggap disersi karena berani mengkritik dan beroposisi dengan Bre-Kertabumi (Brawijaya V), Raja Majapahit waktu itu. Kutu melihat bersemainya Demak yang ditopang oleh kalangan Islam merupakan ancaman serius terhadap kelangsungan Majapahit. Nasehat Kutu ini justru dianggap fitnah oleh Brawijaya V yang telah termakan oleh bujuk rayu Dewi Campa (seorang putri Cina yang dipersembahkan kepada Brawijaya dari pihak Demak). Dewi Campa memang ditugaskan oleh Demak untuk melakukan Islamisasi terhadap Kerajaan Majapahit. Akibat pertimbangan yang diberikannya itu, maka Kutu menuai hukuman politik dan harus dimusnahkan. Namun begitu, Kutu tak patah arang, ia membangun basis pertahanan lokal sekaligus mengkritik Brawijaya V dengan mencipta reyog. Tampilan reyog yang menggambarkan kepala harimau yang berbalut bulu merak menandakan bahwa Brawiajaya V tak berkutik diketiak Dewi Campa. Sedang barisan Jathil (pasukan berkuda) yang bersifat femenin mengilustrasikan bahwa prajurit Majapahit bak perempuan yang tak bernyali untuk menggempur Demak Bintoro. Singkat cerita, saat Majapahit runtuh oleh Demak, maka Demak juga menghabisi Kutu. Pasukan Demak yang dipimpin Katong berhasil menduduki Ponorogo. Selanjutnya mitos mitos reyog Kutu dikemas ulang oleh Katong yang menceritakan iring ringan Prabu Klana Sewandono (Wengker) hendak mempersunting Dewi Songgolangit (Kediri). Nafas satiris dalam mitos mitos reyog Kutu dengan sengaja dilenyapkan oleh Katong, sebab antara Katong dan Brawijaya V ternyata hubungan bapak-anak. Karena Katong sebagai pemangku sejarah yang dominan dan berkuasa, maka berlakulah hukum kekuasaan, yakni yang menang yang akan membentuk sejarah.

PERLENGKAPAN REOG

  1. Instrumen pengiringnya : berupa kempul, ketuk, kenong, genggam, ketipung, angklung dan terutama salompret, menyuarakan nada slendro dan pelog yang memunculkan atmosfir mistis, aneh, eksotis sekaligus membangkitkan gairah

  2. Dadak merak : melambangkan kekuasaan / kecantikan..

  3. Barong : melambangkan kekuatan atau lelaki perkasa. Tapi ada sebagian legenda yang menyebutkan bahwa barong yang dihiasi merak menandakan bahwa Raja Brawijaya V tak berkutik dibawah dewi campa (permaisuri) . Diperlukan kekuatan ekstra dan keahlian tertentu untuk dapat menggunakannya. Dadak yang berukuran lebii dari 2m dengan berat 50-60 kg harus diangkat dengan menggunakan gigi. Pada awal mula pementasannya dahulu, seorang dadak merak selalu menggunakan hal – hal yang berbau mistis seperti olah kanuragan, puasa, dan melakukan lakon tertentu. Tapi dengan perkembangan jaman, hal tersebut sudah mulai ditinggalkan, dan generasi penerus lebih cenderung mengolahnya dengan pemikiran yang logis, yaitu dengan latihan dan pergerakan yang tepat

  4. Warok dengan berpakaian hitam : sebagian legenda menceritakan bahwa warok merupakan tokoh yang beringas, dan penuh dengan ilmu hitam, tapi legenda yang lain menceritakan sosok warok adalah pasukan yang bersandar pada kebenaran dalam pertarungan antara yang baik dan jahat dalam cerita kesenian reog. seseorang sakti dan memiliki kearifan yang tinggi, serta menjadi tokoh sentral atau “orang tua” didaerahnya masing-masing yang disegani.

  5. Gemblak / penari jatilan : oleh sebagian legenda, gemblak / jatilan adalah lelaki kesayangan dari warok. Menurut legenda memelihara gemblak adalah tradisi yang telah berakar kuat pada komunitas seniman reog. Seolah menjadi kewajiban setiap warok untuk memelihara gemblak agar bisa mempertahankan kesaktiannya. Apalagi ada kepercayaan kuat di kalangan warok, hubungan intim dengan perempuan bahkan dengan istri sendiri, bisa menjadi pemicu lunturnya seluruh kesaktian. Saling mengasihi, menyayangi dan berusaha menyenangkan adalah ciri khas relaksi khusus antara gemblak dan waroknya. Namun dengan berkembangnya jaman, kesan tersebut sudah mulai dirubah perlahan lahan. Gemblak yang biasa berperan sebagai penari jatilan, kini perannya digantikan oleh remaja putri. Padahal dulu-dulunya kesenian ini tampil tanpa seorang wanita pun.

    Tapi ada juga legenda yang menyebutkan bahwa jatilan ( pasukan berkuda ) yang bersifat fiminim mengilustrasikan bahwa prajurit majapahit bak perempuan yang tidak bernyali untuk menggempur demak bintoro

  6. Warok kecil: lebih ke tujuan hiburan, yang disuguhkan sebelum reog memulai jalan cerita. Biasanya dilakukan oleh anak laki – laki dengan usia berkisar antara 4 – 10 tahun.

JALAN / ALUR CERITA

Reog mengacu pada beberapa babad, Salah satunya adalah babad Kelana Sewandana. Babad Klana Sewandana yang konon merupakan pakem asli seni pertunjukan reog. Mirip kisah Bandung Bondowoso dalam legenda Lara Jongrang, Babad Klono Sewondono juga berkisah tentang cinta seorang raja, Sewondono dari Kerajaan Jenggala, yang hampir ditolak oleh Dewi Sanggalangit dari Kerajaan Kediri. Sang putri meminta Sewondono untuk memboyong seluruh isi hutan ke istana sebagai mas kimpoi. Demi memenuhi permintaan sang putri, Sewandono harus mengalahkan penunggu hutan, Singa Barong (dadak merak).

REOG SEBAGAI ALAT POLITIK

Kedasyatan Reyog Ponorogo dalam mengumpulkan dan mengerakkan massa sempat membuat sebuah organisasi sosial politik sejak tahun 1950-an untuk mendomplengnya sebagai alat. Tahun 1955 misalnya terbentuk cakra cabang kesenian Reyog agama milik NU, untuk memenangkan partainya pada pemilu. Kemudian Bren Barisan Reyog Nasional atau BRP atau Barisan Reyog Ponorogo milik Tegak. Hal ini membuat Reyog Ponorogo dalam perkembangannya nyaris tiba jurang kematian.

Pada tahun 1965 sampai 1971 saat pemerintah menumpas PKI, BRP dibubarkan dan imbasnya membuat Reyog-Reyog lain ikut ujungnya. Ribuan unit Reyog terpaksa dibakar akibat terpaan isu kesenian ini menjadi penggalak komunis dalam mengumpulkan dan mengerakan massa. Para pelaku kesenian ini akhirnya menjadi pekan atau pencari rumput. Beruntung di akhir 1976, Reyog Ponorogo kembali dihidupkan dengan pendirian INTI (Insan Tagwa Illahi Ponorogo). Belajar dari sejarah ini, banyak pelaku seni ini yang tidak ingin lagi ditunggangi. Biarlah Reyog menjadi milik rakyat tanpa batasan dan diklaim milik golongan tertentu.

PROSESI PEMENTASAN

Alur cerita pementasan Reog yaitu warok, kemudian jatilan, Bujangganong, Kelana Sewandana, barulah barongan atau dadak merak di bagian akhir. Ketika salah satu unsur di atas sedang beraksi, unsur lain ikut bergerak atau menari meski tidak menonjol. Seni Reog Ponorogo terdiri dari beberapa rangkaian 2 sampai 3 tarian pembukaan. Tarian pertama biasanya dibawakan oleh 6-8 pria dengan pakaian serba hitam, dengan muka dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani. Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda. Pada Reog tradisionil, penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang berpakaian wanita. Tarian ini dinamakan tari jaran kepang. Tarian pembukaan lainnya jika ada biasanya berupa tarian oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu. Setelah tarian pembukaan selesai, baru ditampilkan adegan inti yang isinya bergantung kondisi dimana seni Reog ditampilkan. Adegan dalam seni Reog biasanya tidak mengikuti skenario yang tersusun rapi. Disini selalu ada interaksi antara pemain dan dalang (biasanya pemimpin rombongan) dan kadang-kadang dengan penonton. Terkadang seorang pemain yang sedang pentas dapat digantikan oleh pemain lain bila pemain tersebut kelelahan. Yang lebih dipentingkan dalam pementasan seni reog adalah memberikan kepuasan kepada penontonnya. Adegan terakhir adalah singa barong,

RAGAM ACARA PEMENTASAN.

Reog modern biasanya dipentaskan dalam beberapa peristiwa seperti pernikahan, khitanan dan hari-hari besar Nasional. Jika berhubungan dengan pernikahan maka yang ditampilkan adalah adegan percintaan. Untuk hajatan khitanan atau sunatan, biasanya cerita pendekar.

Posted under Antropologi Budaya by Brian on Thursday 8 January 2009 at 6:44 am